Seribu Buku Untuk Tuna Netra

Mitra Netra, sebuah organisasi nir laba yang memusatkan kegiatannya pada peningkatan kualitas dan partisipasi tunanetra di bidang pendidikan dan lapangan kerja, 

Adalah satu dari sangat sedikit "penerbit" buku untuk tunanetra di negeri ini. Lembaga yang didirikan sejak tahun 1991 di Jakarta ini, secara konsisten telah menjadikan dirinya sebagai satu-satunya lembaga, yang secara kreatif dan inovatif mengembangkan strategi, untuk mempermudah tunanetra mendapatkan akses ke dunia literasi. 

Gerakan "Seribu Buku Untuk Tunanetra" adalah salah satunya. Berawal dari keprihatinan yang mendalam atas minimnya ketersediaan buku untuk tunanetra di Indonesia, yang sangat tidak sebanding dengan pesatnya perkembangan dunia literasi dewasa ini, melalui gerakan ini, Mitra Netra mengundang masyarakat luas berpartisipasi, untuk mempercepat akses tunanetra ke dunia literasi.  

Bertajuk  gerakan Seribu Buku Untuk Tunanetra yang diluncurkan pada tanggal 30 Januari 2006, Mitra Netra mengundang penerbit dan penulis bekerja sama, dengan meminjamkan soft file buku yang mereka terbitkan. Sedangkan, kepada masyarakat luas, Mitra Netra mengundang untuk menjadi relawan, dengan membantu mengetik ulang buku-buku popular. Semua file buku baik dari penerbit, penulis maupun relawan, akan diolah menjadi file berformat Braille oleh Mitra Netra, dengan menggunakan perangkat lunak Mitranetra Braille Converter (MBC), untuk kemudian dicetak menjadi buku Braille dengan mesin Braille embosser. 

Agar buku-buku tersebut  dapat dinikmati oleh tunanetra di seluruh Indonesia, Mitra Netra kemudian mendistribusikannya melalui layanan perpustakaan Braille on line yang dikelolanya, www.kebi.or.id (KEBI singkatan dari Komunitas E-Braille Indonesia), yang beranggotakan para produser buku Braille di Indonesia. 

Dengan partisipasi masyarakat melalui gerakan Seribu Buku Untuk Tunanetra, Mitra Netra telah berhasil memangkas sebagian besar waktu dan biaya yang dibutuhkan guna memproduksi buku Braille - kurang lebih 80 %. Ini juga berdampak pada makin cepatnya tunanetra mendapatkan buku. Dalam waktu lebih dari dua tahun sejak diluncurkan di tahun 2006, Seribu Buku Untuk Tunanetra telah berhasil menghimpun 1050 file buku, baik dari relawan, penerbit dan penulis,-- 80 % di antaranya kontribusi relawan --, yang secara bertahap sedang diolah menjadi buku Braille.   

Melalui gerakan Seribu Buku Untuk Tunanetra, Mitra Netra juga bermaksud mendorong Pemerintah, agar nantinya dapat melahirkan kebijakan, yang memenuhi kebutuhan khusus tunanetra di bidang literasi.